Curahan Hati Eks Bandar Narkoba, Inginkan Lapangan Pekerjaan yang Layak

Penulis Asrul Septian Malik
23 Oct 2017 - 20:30
SAI 100 FM | Curahan Hati Eks Bandar Narkoba, Inginkan Lapangan Pekerjaan yang Layak Eks pengedar narkoba di Desa Kejadian, Pesawaran ini meminta pekerjaan yang layak setelah mereka bertaubat dari dunia hitam narkoba saat pertemuan dengan Kapolda dan Bupati Pesawaran. (Foto:Lampost/Asrul SM)

BANDAR LAMPUNG (SAI100FM.id)--Desakan kebutuhan hidup dan tawaran menggiurkan dari bisnis narkoba, membuat ranah lingkaran sentan itu banyak diminati mereka yang kepepet. Namun, bisnis barang haram itu tak semulus yang diduga, apalagi pemerintah secara tegas menyatakan memerangi narkoba secara tuntas. 

Ratusan pasang mata tiba-tiba terpaku, semua mengarah ke sosok pria berbadan besar yang berdiri di atas panggung Balai Desa Kejadian, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawran , Senin (23/10/2017). Dengan menggunakan baju berwarna merah, celana panjang warna cream, dan pentutup kepala (bandana) berlambang bendera negeri Paman Sam.



"Saya bingung di sini mau ngomong apa, tapi saya diutus kesini mewakili yang lain saya berani-berani saja, tanpa teks tanpa ngafal, mohon maaf kalau saya salah-salah ngomon pak Polisi, kalau mau temba, tembaklah  saya, kalau mau dipenjara enggak apapa, tapi dua hari saja," kata pria itu dengan mimik bercanda, namun intonasi suaranya terlihat serius.
Adalah
Hanafi (41), yang mulai menceritakan tentang perjalanan hidupnya dan juga bagaiman suka duka para pemuda dan pria yang tinggal di Desa Kejadian.
Hanafi merupakan wakil dari puluhan pemain narkoba yang bertaubat dan meminta kepada Kapolda Lampung Irjen Pol Suroso Hadi Siswoyo dan Bupati Pesawaran Dendy Ramadhona, untuk diberikan lapangan pekerjaan.

Satu per satu kehidupannya ia beberkan didepan khayalak ramai, ada   Kapolda Lampung Inspektur Jenderal Suroso Hadi Siswoyo, Waka Polda Lampung Brigjen Agensta Romano Yoyo,  Ketua DPRD Provinsi Lampung Dedi Afrizal, dan Bupati Dendi Romadhona.

Dunia hitam sudah ia jajaki sejak muda, berawal keinginannya untu memilik uang yang lebih, namun kemampuan orang tuanya yang tak memadai, ia nekat terjun dalam perbuatan kriminal. Empat kali bapak empat anak itu merasakan dinginnya jeruji besi, pada tahun 1998 ia berususan dengan polisi karena nodong, tahun 2001 digerebek aparat karena memiliki senjata api, pada 2004 ia berkelahi dan ditangkap, hingga yang terakhir pada tahun 2008 ia tertangkap basah ketika asik bermain judi koprok.

"Saya sejak SMA kelas II sudah berenti sekolah, kami dulu disini enggak ada pilihan, kalau mau hidup ya nyopet, nodong, dan jualan narkoba, saya minta uang sama emak saya enggak dikasih, minta sama bapak malu, mau beli rokok enggak ada duit,  makanya ya ini lah saya, apa yang enggak mungkin di dunia, di Desa Kejadian bisa saja terjadi,".

"Dengan adanya langkah ini, saya berasa dimanusiakan, ya saya harus jadi manusia, selama ini kami bukan manusia, karena kami enggak ada pilihan. Enggak ada yang diciptakan sama Tuhan tanpa manfaat, minimal kami ada gunanya untuk jadi pembanding, jangan sampai lagi kayak kami.ucapnya sambil terbata-bata.

Akhirnyua pun ia mengaku kalau dirinya seorang pengedar narkoba tunggal, di desa tersebut. Ia berjanji bersama rekan-rekannya akan hijrah ke lembaran baru, meinggalkan semua kehidupan kelam mereka semasa menjajakan barang haram tersebut.

"saya ini BD tunggal, apapun barang saya ada, bahkan inex piranha cuma saya yang punya waktu itu, cari kemana aja enggak ada. Saya janji tembak kepala saya, enggak bakal turun lagi barang itu (narkoba) ke sini, biar mati ditabrak. Saya sudah  berhenti bermain barang haram itu," ucapnya lantang.

Kendati benar-benar bertaubat, Hanafi beserta 58 mantan mandar dan kurir narkoba yang menyatalan telah melepaskan jeratan narkoba itu, meminta disediakannya lapangan pekerjaan yang layak. Sebab, mereka memiliki keluarga yang harus dihidupi.

Usai meluapkan segala keluh kesah dan emosinya, serta harapnnya, Hanafi mendapat sambutan tepuk tangan dari hadirin. Tidak jauh dari panggung, sekitar 10 meter dua perempuan yakni ibunda Hanafi dan istirnya mengeluarkan air mata, tangis mereka jadi satu meledak tak kuasa melihat curahan hati Hanafi.

 

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA