Derita Angkot yang Termakan Kemajuan Zaman

Penulis Firman Luqmanulhakim
20 Sep 2017 - 3:30
SAI 100 FM | Derita Angkot yang Termakan Kemajuan Zaman Tumaji, sopir angkot jurusan Pahoman—Tanjungkarang, saat menyampaikan keluhan dan aspirasinya di hadapan pejabat Pemkot Bandar Lampung, Selasa (19/9/2017). LAMPUNG POST/FIRMAN LUQMANULHAKIM

BANDAR LAMPUNG (SAI100FM.id) -- Perkembangan teknologi saat ini begitu pesat. Mungkin dalam sepuluh atau dua puluh tahun lalu tidak pernah terpikirkan untuk memesan angkutan melalui ponsel pintar yang ada di genggaman tangan. Namun, saat ini hal tersebut sangatlah mudah dilakukan melalui aplikasi transportasi berbasis daring.
Aplikasi yang mudah dijumpai dan dioperasikan para pengguna jasa transportasi. Maraknya jasa transportasi daring tersebut menjadikan angkutan kota (angkot) berbentuk mikrolet dari perhentian satu ke perhentian lainnya tergerus oleh kemajuan zaman.
Tumaji (45), sopir angkot jurusan Pahoman—Tanjungkarang, merasakan dampak kemajuan teknologi yang saat ini melaju dengan pesatnya. Dengan maraknya transportasi daring roda dua dan empat di Kota Tapis Berseri sejak Mei lalu, otomatis pendapatan sehari-hari yang ia dapatkan berkurang.
Dengan nada tinggi, pria empat anak ini menyampaikan keluhan di hadapan perwakilan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandar Lampung. Dengan harapan, aspirasinya didengar dan ada tindakan tegas dari Pemkot setempat. "Dari Rp100 ribu per hari, saat ini penghasilan saya hanya Rp25 ribu sehari. Itu sangat kurang. Apalagi anak saya ada empat," keluhnya di ruang rapat Dinas Pendapatan Pemkot Bandar Lampung, Selasa (19/9/2017).
Akibat beroperasinya transportasi online, sebut saja Go-Jek, Grab, atau Uber, Tumaji harus putar otak menghemat semua pengeluaran selama dia menarik penumpang. Salah satunya dengan tidak makan di luar atau di warung biasa tempat ia menunggu penumpang. "Dalam seminggu ini saja, saya sudah tidak makan di luar atau di warung lagi. Saya pulang makan di rumah. Uang makan di warung lebih baik di tabung untuk anak saya," ujar Tumaji dengan mata berkaca-kaca.
Mengalungkan handuk kecil di lehernya, ia merasa waktu satu minggu yang diminta Pemkot untuk mengeluarkan keputusan penutupan kantor Go-Jek terlalu lama. "Saya mau makan apa nanti, Pak? Dengan pendapatan saya yang sekarang, tidak akan cukup! Tolong ada solusi untuk kami secepatnya," ujar dia. 

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA