Kampung Wali Kota yang Teraniaya

Penulis Febi Herumanika
23 Sep 2017 - 3:30
SAI 100 FM | Kampung Wali Kota yang Teraniaya Pengendara sepeda motor melintasi jalanan rusak berlubang dengan aspal yang tertutup debu di Desa Bumisari, Natar, Lampung Selatan, Jumat (22/9/2017). LAMPUNG POST/FEBI HERUMANIKA

BANDAR LAMPUNG (SAI100FM.id) -- Sebagai wilayah penyangga ibu kota Provinsi Lampung mungkin pas untuk sebutan Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Jalan mulus dengan marka yang begitu putih mentereng menghias sepanjang Jalan Lintas Sumatera, mengantarkan wartawan SAI100FM.id ke sebuah desa yang begitu ramai anak sekolah. Kala itu Jumat, jarum arloji menunjukkan pukul 11.30.
Sunyi dan gelap bila malam tiba, karena penerangan di desa itu minim. Sebagai wilayah perlintasan menunju Kota Bandar Lampung yang digadang-gadang akan memiliki bandar udara internasional, belum lengkap rasanya bila belum melintasi desa yang diberi nama Bumisari ini.
Sambutan debu jalan berhamburan, jalan bebatuan yang rusak hampir menghiasi sepanjang jalan di kampung yang dulu setiap harinya dilewati mantan Wali Kota Bandar Lampung periode 2005—2010 Edi Sutrisno.
Nasib desa tercinta mantan Wali Kota ini terabaikan. Bahkan, dari tahun ke tahun, hampir tidak ada pembangunan yang berarti di kampung ini. Selain jalanan yang dihiasi bebatuan dan lubang, aspal yang mungkin sepuluh tahun lalu dibangun sudah mulai menghilang. Tak ayal, jika masyarakat yang melintas di perkampungan ini menyebutnya sebagai kampung wali kota yang teraniaya.
Mayoritas masyarakat di desa ini bekerja sebagai petani dan buruh pabrik. Tak jarang, masyarakat mengeluhkan kondisi perkampungan yang tahun demi tahunnya tidak ada perbaikan. Sebagai desa yang berdekatan dengan ibu kota Provinsi Lampung, seharusnya tidak pantas lagi bila Desa Bumisari tidak terlihat geliat pembangunan. Terlebih, Desa Bumisari tidak jauh dari bandar udara kecintaan masyarakat tanah lada ini.
"Sekitar dua sampai tiga tahun yang lalu, sempat ditabur pecahan batu-batu besar. Saya kira mau diaspal, tapi tidak. Bebatuan itu hanya ditaburi pasir. Setelah itu selesai, ya beginilah jadinya," kata laki-laki tua yang dihampiri SAI100FM.id, Jumat (22/9/2017).
Tanpa terkecuali sekolah-sekolah mulai dari tingkat PAUD hingga SMA/SMK, semua jurusan dan jejang pendidikan ada di desa ini. Keberadaan gedung-gedung sekolah ini pun tak memikat hati pemerintah untuk berbenah. Ratusan bahkan ribuan anak didik yang mengenyam pendidikan setiap hari harus berjalan beriringan kerumunan debu dan sajian jalan aspal yang hancur.
"Sekolah di sini lengkap, mulai dari PAUD, SD, SMP/MTS, hingga SMA dan SMK ada semua di Bumisari. Pas pulang dan berangkat sekolah anak didik ini ramai sekali. Tapi, kondisinya ya seperti ini. Selain kampungnya tak terawat, jalan dan pembangunannya juga tak berjalan dari tahun ke tahun," kata Andi warga setempat.

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA