Kasih Ibu yang Tidak Lekang oleh Keadaan

Penulis Effran Kurniawan
28 Oct 2017 - 5:00
SAI 100 FM | Kasih Ibu yang Tidak Lekang oleh Keadaan Mbah Kliyem menuangkan air ke gelas plastik saat akan menikmati hidangan makan seadanya dalam gubuknya di Dusun Rengas, Desa Jatiindah, Tanjungbintang, Lampung Selatan, pekan lalu. LAMPUNG POST/EFFRAN KURNIAWAN

BANDAR LAMPUNG (SAI100FM.id) -- Gubuk berukuran 10 x 5 meter di tengah kebun karet wilayah Dusun Rengas, Desa Jatiindah, Tanjungbintang, Lampung Selatan, menjadi saksi seorang wanita berusia kisaran 100 tahun menjalani hidup dalam kemiskinan dengan merawat anaknya yang mengalami gangguan jiwa. Di rumah yang terbuat dari kayu, geribik, dan beralas tanah itulah, nenek yang akrab disapa warga Kliyem merawat anak bungsunya, Ngadimun, yang terganggu jiwa sejak beberapa tahun lalu setelah sang suami meninggal dunia puluhan tahun lalu.
Dalam rumah hanya terdapat ruangan untuk menyambut tamu dan ruang tidur dari papan kayu yang terisi satu ranjang untuk Mbah Kliyem melepaskan lelah usai seharian beraktivitas serta meja makan untuk mengisi energinya.
"Saya tinggal di sini berdua sama anak yang sakit jiwa sejak beberapa tahun lalu. Dua anak saya tinggal di Kalimantan, tetapi enggak pernah kunjungi saya," kata Kliyem saat dikunjungi di kediamannya, pekan lalu.
Di dapur peralatan masak yang tidak layak pun turut ditemui. Kesederhanaan juga terlihat saat Kliyem memasak makanannya dengan menggunakan tungku dan kayu bakar, sedangkan rumahnya pun hanya menggunakan lampu tempel karena listrik tidak teraliri ke rumahnya.
Pada masa tuanya itu, Kliyem tidak bisa menikmati masa tuanya dengan bahagia. Fisiknya pun terus dimakan usia dengan kulit keriput, kedua mata yang tidak dapat melihat jelas.
Meskipun demikian, dia tidak pernah mengeluhkan keadaan dan kesedihan pun tidak terlihat dari raut wajahnya yang masih bisa tersenyum.
Untuk kebutuhan makan sehari-harinya, Mbah Kliyem mendapatkan pemberian saudara dan warga sekitar yang merasa iba dengan kondisi tersebut. Aktivitas hariannya hanyalah mencari kayu bakar yang akan digunakannya memasak air dan makanan seadanya. "Kadang cuma kasih beras dan saya memakai sendiri," ujarnya.
Menjalani hidup berdua bersama anaknya telah dijalaninya sejak puluhan tahun lalu setelah suaminya meninggal dunia karena sakit yang dideritanya. Sejak itu, dia harus berusaha bertahan hidup tanpa ada penopang untuk menafkahinya. "Rumah ini numpang sama adik, saya cuma nempatin saja," ujarnya.
Lasiem (47), seorang tetangga, mengatakan untuk kebutuhan harian Mbah Kliyem dibantu warga sekitar. "Bukan hanya makan saja ada juga yang kasih duit dan sembako. Kadang juga saudaranya kasih makan ke Mbah dan anaknya," ujarnya.
Sementara anak lelakinya Ngadimun mengidap gangguan jiwa sejak lama. Padahal, anak bungsunya tersebut pada awalnya sehat secara psikologi.
"Anaknya cuma bisa main-main saja karena sakit jiwa gitu. Tapi awalnya anak Mbah itu sehat, setelah beberapa tahun baru sakit gitu. Saya juga kurang tahu penyebabnya," kata dia. 

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA