Mengais Rezeki dari Alunan Orkes Jalanan

Penulis Febi Herumanika
06 Oct 2017 - 23:00
SAI 100 FM | Mengais Rezeki dari Alunan Orkes Jalanan Para pengamen musik jalanan memainkan alat musik tradisional di perempatan lampu merah Jalan Wolter Monginsidi, Kamis (5/10/2017). LAMPUNG POST/FEBI HERUMANIKA

BANDAR LAMPUNg (SAI100FM.id) -- Dentuman suara gendang beriring dengan alunan angklung hampir setiap hari terdengar kala melintas di perempatan lampu merah Jalan Wolter Monginsidi, tepatnya di depan kantor Dinas Pariwisata Kota Bandar Lampung. Pada sudut lampu merah itu ada lima pemuda menggunakan kostum petani Jawa lengkap dengan membawa alat musik tradisonal.
Pohon rindang berdampingan lampu merah dimanfaatkan para pengamen jalanan untuk mengais rezeki setiap harinya. Bermodalkan angklung serta peralatan bekas, dengan semangat penuh para pengamen jalanan memainkan alat musik yang begitu merdunya terdengar di telinga.
Cuaca cukup bersahabat saat itu, Kamis (5/10/2017), jam arloji menunjukkan pukul 13.00. Tidak jarang pengguna jalan yang melintas kagum dengan para pemuda yang tergolong masih remaja itu begitu mahir memainkan alat tradisonal tersebut.
erbalut baju khas adat Jawa, lenggak-lenggok dari pemain orkes jalanan itu mengundang perhatian hingga tidak sedikit mobil mewah membuka kaca mobilnya memberi sedikit rupiah kepada pencinta seni itu.
Cita-cita lima remaja itu sederhana, dari hasil mengamen mereka ingin mendirikan sanggar tempat anak-anak belajar memahami dan memainkan musik tradisonal yang nyaris tidak dikenal lagi. Penghasilan dari menabuh alat musik itu pun tidak banyak yang didapat. Namun bukan rupiah tujuan utama, melainkan kecintaan para remaja ini terhadap seni tradisonal sejak masih belia.
"Semua alat-alat ini bekas, terkecuali angklung ukuran besar yang sengaja kami beli dari Bandung, Jawa Barat. Tujuannya menghibur masyarakat dan lebih mengenalkan lagi alat musik seperti ini," ujar Wendi Ardi Saputra, ketua dari pemain orkes jalanan itu.
Semua anggota berasal dari daerah berbeda, tetapi masih berasal dari provinsi Tanah Lada. Bekerja seperti pengamen, kata Wendi, memang keinginan dari dia sendiri dan para sahabatnya.
"Cari uang buat bikin sanggar sendiri, supaya anak-anak ke depannya lebih paham dan mengerti cara mainin alat musik seperti ini," kata dia.
Para pemain orkes jalanan ini berharap pemerintah lebih peduli akan nasib seni, terutama seni tradisonal. Jika tidak dilestarikan oleh generasi muda, lambat-laun semua akan tergilas oleh kecanggihan teknologi.
"Berharap ada sanggar sendiri. Syukur-syukur pemerintah mau menyediakan, jadi bisa menampung anak-anak yang mau belajar seni angklung, tari, dan alat musik lainnya," kata Wendi. 

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA