Mengantarkan Ibunda ke Peristirahatan Terakhir

Penulis Deni Zulniyadi
24 Oct 2017 - 6:00
SAI 100 FM | Mengantarkan Ibunda ke Peristirahatan Terakhir Irjen Ike Edwin yang juga Perdana Menteri Kerajaan Sekala Bkhak menabur bunga di pusaran makam ibundanya di Sukarame, Bandar Lampung, Senin (23/10/2017). LAMPUNG POST/IKHSAN DWI NUR SATRIO

BANDAR LAMPUNG (SAI100FM.id) -- Cita-cita mulia Irjen Ike Edwin saat pensiun dapat mengurus sang ibunda tidak terwujud. Sang ibunda, Hj RA Maslena Dewi, lebih dulu berpulang kepada Sang Khalik dalam perawatan medis di Rumah Sakit Umum Abdul Moeloek (RSUDAM), Minggu (22/10/2017), sekitar pukul 18.25.
Cita-cita itu selalu disampaikan Perdana Menteri Kerajaan Sekala Bkhak kala menjabat kapolda Lampung. "Cuma satu keinginan saya, pensiun di Lampung bisa merawat dan memandikan ibu saya," seperti itulah perkataan Dang Ike, sapaan akrab Ike Edwin, kala itu.
Belum lama menjabat kapolda Lampung, Ike Edwin dimutasi ke Mabes Polri hingga akhirnya kini menjadi staf ahli Kapolri. Meski demikian, dia tetap menyempatkan waktu pulang ke Lampung untuk merawat ibunya setiap akhir pekan. Kini sang ibu telah wafat dalam usia 89 tahun.
Pemantauan Lampung Post, di kediaman Ike Edwin di Sukarame, Bandar Lampung, Senin (23/10/2017), ratusan pelayat memadati Lamban Kuning untuk menyaksikan pemakaman yang dilangsungkan dengan prosesi adat. Tampak pula jajaran Polda Lampung hadir dalam pemakaman itu, seperti Kapolda Lampung Irjen Suroso Hadi Siswoyo, Wakapolda Lampung, dan Bupati Pesawaran Dendi Ramadhona. Hadir pula bakal calon gubernur Lampung, Arinal Djunaidi.
Tampak jelas kesedihan di raut Dang Ike saat terakhir kalinya mengantar sang ibunda ke liang lahat. Dari rumah, jenazah Hj RA Maslena Dewi dibawa menggunakan tandu dengan tirai bak permaisuri yang dikawal pendekar pasukan Kerajaan Sekala Bkhak, lengkap dengan payung-payung, pedang, dan tombak. Rombongan itu diiringi ratusan pelayat.
Sesampainya di liang lahat, mantan Kapolda Lampung itu langsung turun ke lubang untuk menyambut jenazah ibunya bersama dua keluarga lainnya. Dengan isak tangis sanak saudara, jenazah akhirnya diturunkan ke liang.
Tiba saatnya mengumandangkan azan untuk sang ibunda. Seluruh pelayat hening, sang jenderal bintang dua itu mulai melantunkan suara azan dengan terbata-bata.
Sesekali napasnya tersedak menahan tangis hingga harus dituntun seorang ustaz melanjutkan azannya. Kesedihan mendalam terpancar dari wajah para sanak saudara dan pelayat atas kepergian nenek 20 cucu itu.
Usai mengumandangkan azan dan ikamah, keping demi keping papan pun mulai disusun untuk menutup liang. Perlahan sanak saudara mulai mencangkul tanah untuk menimbun liang kubur. Sebelum meninggalkan permakaman, para pelayat, para tokoh, serta sanak saudara diperkenankan untuk menyiram air dan menabur bunga di atas makam nenek yang meninggalkan 10 buyut itu.

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA