Merantau Demi Mengais Rezeki dengan Batagor Keliling

Penulis Armansyah
04 Oct 2017 - 18:10
SAI 100 FM | Merantau Demi Mengais Rezeki dengan Batagor Keliling [14:32, 10/4/2017] armansyah2: Ajo (24) warga Desa Neglasari, Kecamatam Cibadak, Sukabumi, Jawa Barat, yang mengadu nasib berjualan batagor di Desa Bangunan, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Rabu (4/10/2017). (Foto:lampost/Armansyah)

KALIANDA (SAI100FM.id)--Pemuda itu tampak sibuk melayani para pelanggan setianya. Di bawah rerimbunan pohon beringin, tampak semangat dalam mengais rezeki di sudut Desa Bangunan, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, Rabu (4/10/2017).
Ketika pelanggan mulai sepi ia langsung menabuh kentungan. Meski terik matahari begitu menyengat, ia tetap gigih menjajakan dagangannya. Pemuda itu Ajat Sudrajat namanya. Ia merupakan salah satu penjual bakso tahu goreng (batagor).
Itulah keseharian Ajat Sudrajat yang mengadu nasib dengan cara berniaga batagor, kuliner khas Bandung yang kini dapat ditemui di mana saja. Tanpa rasa lelah, ia setiap hari mangkal bersama gerobak dorongnya di pusat keramaian Kecamatan Palas itu.
Ajat Sudrajat atau sering disapa Ajo itu ternyata salah satu pemuda yang sengaja merantau mencari rezeki. Ia rela jauh dari keluarga demi mencari sesuap nasi. Ajo merupakan warga Desa Neglasari, Kecamatam Cibadak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.
Dalam sehari, Ajo mengaku mampu mengumpulkan uang sebesar Rp400 ribu setiap berjualan. Meski demikian, Ajo mengatakan batagor yang dijualnya itu adalah milik orang lain yang sengaja bekerja sama dengannya.
"Dari setiap penjualan batagor Rp5.000 per porsi, saya bisa mengumpulkan uang Rp400 ribu per hari. Itu sudah paling besar. Kemudian, uang itu saya setorkan ke bos. Ya, bersih yang saya dapatkan sekitar Rp100 ribu—Rp150 ribu per hari," kata dia.
Ia mengaku berjualan batagor itu telah dilakoninya sejak dua tahun terakhir. Ketika menjelang malam, Ajo langsung pulang ke kontrakannya di Kota Kalianda, Lamsel. Ia nekat bekerja di rantauan lantaran sulitnya mendapatkan pekerjaan yang tetap.
"Sekarang sangat sulit mencari pekerjaan. Apalagi saya tidak memiliki ijazah SMA. Namun, saya dulu pernah bekerja di toko burger di Jakarta Pusat. Karena abis kontrak, saya nekat merantau di Lampung," kata dia yang kini menginjak usia 24 tahun.
Menurut putra tunggal Mat Soleh dan Yati itu, penghasilannya tersebut ia pergunakan untuk keperluan sehari-hari. Namun, jika ada sisa dari penghasilannya, Ajo sisihkan untuk dikirimkan kepada orang tuanya di kampung halamannya.
"Ya, uang dari kerja saya pakai buat sehari-hari. Kalau ada nyisa, saya kirim buat orang tua. Tahu sendiri, Mas, kalau masih bujang. Apalagi saya di sini masih ngontrak. Ya, lumayan bisa buat kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA