Ratusan Warga Krisis Air Bersih, Diduga Akibat Pembangunan Jalan Tol

Penulis Aan Kridolaksono
19 Sep 2017 - 19:15
SAI 100 FM | Ratusan Warga Krisis Air Bersih, Diduga Akibat Pembangunan Jalan Tol Kemarau di Bakauheni dan sekitarnya sudah tergolong parah karena banyak sumur warga yang sudah mengering hingga harus mencari sumber air lainnya untuk kebutuhan sehari-hari. (Foto:Lampost/Aan Kridolaksono)

KALIANDA (SAI100FM.id)-- Kebutuhan air merupakan vital bagi mahluk hidup, termasuk buat masyarakat di Lampung Selatan yang mengalami keringan. Kekeringan di kabupaten Lampung Selatan semakin meluas, setelah dua dusun di Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni,  kesulitan mendapatkan air bersih, kini setidaknya ada empat dusun di kecamatan Penegahan dan Bakauheni mengalami kesulitan air bersih sejak awal September lalu.

Air galian keruh yang biasa digunakan untuk mencuci kendaraan proyek tol Sumatera ini menjadi alternatif bagi warga dalam memenuhi kebutuhan air sehari-hari. (Foto:Lampost/Aaan Kridolaksonoa)



Ratusan warga Dusun Campang, Dusun Pungguk dan warga RT 08 Dusun II desa Hatta, Kecamatan Bakauheni serta warga dusun PKS (Paguyuban Keluarga Sulawesi) Desa Penengahan, Kecamatan Penengahan terpaksa menggunakan air di bekas galian siring untuk mencuci kendaraa di pinggir jalan tol STA 9+700 yang melintasi desa tersebut, untuk kebutuhan sehari-hari.

"Sejak ada proyek jalan tol ini air sumur terus menyusut. Puncaknya pada awal September lalu, kondisi sumur kering kerontang. Beruntung, ada empat sumber mata air di pinggir jalan tol yang bisa kami ambil untuk kebutuhan MCK," kata Andi, warga RT Dusun 2 Desa Hatta, saat ditemui sedang mengisi sejumlah jerigen dengan air yang ada di bekas galian siring di ruas jalan tol yang melintasi desa tersebut, Selasa (19/9/2017).

Ia mengaku setiap hari mengambil air dengan sepeda motor yang ada di pinggir jalan tol, sebanyak 12 buah derigen dengan kapasitas 35 liter per derigen. Menurut dia. Ini kekeringan terparah setelah  kemarau berkepanjangan yang terjadi pada 1999 lalu.

"Dari rumah sekitar sekilo. Tiap hari bisa tiga kali ngunjal untuk mendapatkan 12 derigen air," ujar dia.

Sementara Tatang, warga Dusun Campang, mengaku seluruh sumur warga di dusun ini kering. Untuk mendapatkan air, warga yang memiliki sepeda motor bisa mengambil air yang ada dipinggiran jalan tol di desa tersebut.
 Namun bagi yang tidak mempunyai sepeda motor, terpaksa membeli air seharga Rp2 ribu per jerigen.

"Kalau dipanggul gak sanggup karena jaraknya dari rumah hampir sekilo. Jadi kami terpaksa membeli air untuk memenuhi kebutuhan MCK sehari hari," ujarnya.

Tatang menduga kekeringan yang melanda empat dusun di Desa Hatta dan desa tetangga ini akibat pembangunan jalan tol yang melintasi desa mereka. Dugaan tersebut berdasarkan temuan sejumlah sumber air yang ada di ruas jalan tol.

"Mungkin sumber air yang mengaliri sumur sumur kami terputus akibat pembangunan jalan tol ini. Gmana tidak, sumur di sini rata raa kedalamannya 15 meter, sementara pembangunan tol yang melintas desa kami dikeruk sedalam 30 meter," ungkapnya.

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA