Senyum Ramah di Balik Jubah Hitam

Penulis Febi Herumanika
13 Sep 2017 - 4:30
SAI 100 FM | Senyum Ramah di Balik Jubah Hitam Hakim Gustina Aryani (kanan) saat memimpin sidang di Pengadilan Tipikor Kelas IA Tanjungkarang, Bandar Lampung. n LAMPUNG POST/FEBI HERUMANIKA

BANDAR LAMPUNG (SAI100FM.id) -- Raut muka ramah beriring senyum tergambar tiap bertemu perempuan yang kesehariannya mengenakan jubah hitam duduk di kursi hakim Pengadilan Tipikor Kelas IA Tanjungkarang, Bandar Lampung. Bukan hanya kepada orang yang ia kenal, hampir setiap orang yang dia jumpai di tempatnya bekerja mendapat senyum manis itu.
Penyandang gelar magister hukum ini kerap disapa Gustina Aryani. Gaya bahasa yang ramah dan lugas dalam penyampaian setiap berbicara di persidangan seolah menggambarkan sosok Raden Ajeng Kartini, pahlawan emansipasi perempuan, hidup kembali di masa kini.
Gaya bahasa dengan tutur kata lembut, sopan dalam berperilaku, ramah terhadap sesama ia pelajari dari pejuang perempuan asal Jepara, Jawa Tengah, itu. "Kartini itu salah salah satu sosok perempuan pejuang di masanya. Beliau menjadi pahlawan bagi para kaumnya," kata yang terlontar dari mulut hakim yang kesehariannya menangani kasus-kasus besar korupsi di Pengadilan Tanjungkarang.
"Kartini merupakan bagian dari lembaran sejarah yang patut untuk dikenang dan dikagumi sebagai sosok yang sangat inspiratif bagi wanita modern sekarang ini," ujar Gustina.
Seolah tak ada perbedaan dengan hakim pria lainnya, Gustina dengan lantang membacakan surat-surat vonis yang berada di depannya. Meski persidangan hingga larut malam, Gustina menjalaninya dengan penuh tanggung jawab dan semangat.
"Kita yang hidup di zaman modern seperti sekarang semestinya harus lebih hebat, baik itu karier ataupun pekerjaan. Sebagai perempuan seperti halnya mengurus rumah tangga, jangan putus semangat hanya karena kita wanita," ujar Gustina seraya tersenyum.
Ada pesan spesial yang keluar dari bibir sang hakim kepada perempuan Indonesia. Menurut dia, seorang perempuan tidak boleh melupakan perannya terlebih jika sudah berumah tangga. "Sesibuk apa pun kita di zaman teknologi seperti saat ini, kita harus ingat dengan peran kita sebagai istri dan ibu untuk anak-anak. Dengan begitu jangan lupakan komunikasi karena hal ini yang mendekatkan kita kepada keluarga," katanya.
Meski rutinitas yang supersibuk dan padat, Gustina tidak pernah melupakan perannya sebagai perempuan. Saat pagi hari sebelum berangkat bekerja, peran sebagai perempuan dijalaninya, seperti mempersiapkan makan untuk anak dan suami, membersihkan rumah seperti layaknya seorang ibu rumah tangga lainnya.
"Pada intinya kita terlahir sebagai perempuan harus mengetahui peran dan tidak melupakan kodrat sebagai perempuan meskipun kita sebagai wanita karier," kata Gustina.
Sehebat apa pun perempuan, menurut Gustina, dia tetaplah sosok yang harus selalu ingat peran dan tugasnya mengurus anak dan rumah tangganya dengan baik. "Jangan lupakan selalu beribadah dan berdoa kepada sang pencipta biar semua dipermudah dan diberi kesehatan serta kelancaran," katanya.

Tags

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA