Tak Selamanya Biaya Hidup di Apartemen Itu Lebih Mahal

Penulis Lampost.co/MI
13 Oct 2017 - 14:55
SAI 100 FM | Tak Selamanya Biaya Hidup di Apartemen Itu Lebih Mahal Apartemen menjadi solusi permukiman di perkotaan yang sulit mendapatkan lahan luas. (Foto:Antara/Novrian Arbi)

JAKARTA (SAI100FM.id)--Anggapan biaya hidup di apartemen lebih mahal dibandingkan dengan tinggal di rumah tapak nyatanya tidak selamanya benar. Terkadang tinggal di apartemen atau rumah susun (Rusun) di tengah kota bisa memangkas anggaran pengeluaran yang tidak perlu.

"Mitos itu keliru menurut saya," kata Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres), Suharso Monoarfa ketika mengunjungi proyek pembangunan hunian Meikarta, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jumat (13/10/2017).



Menurut Suharso, hunian seperti apartemen dan Rusun justru mampu memangkas anggaran pengeluaran yang tidak diperlukan. Apalagi bila hunian vertikal tersebut terletak di pusat kota dengan sistem Transit Oriented Developmen (TOD) yang mumpuni. Biaya transportasi yang menjadi beban keseharian akan terpangkas. "Mereka jadi bisa menabung, mereka tidak perlu buang uang banyak untuk sampai ke sekolah atau kantor. Ini salah satu contoh," jelas Suharso.

Tanah Abang, kata Suharso, menjadi contoh wilayah hunian vertikal di Indonesia. Seiring perkembangan zaman, di dalam hunian tersebut justru tinggal orang-orang yang punya mobil mewah. "Karena mereka memulai kehidupan dengan menabung dari anggara-anggaran yang tidak perlu mereka keluarkan," kata dia.

Helga Laksita Asastani, penghuni apartemen D'Lofts, palmerah, Jakarta Barat mengaku memang anggapan soal hidup lebih hemat di apartemen betul. Namun, hemat yang dimaksud adalah hemat waktu.

Sedangkan, hidup di apartemen justru banyak pengeluaran. Misalnya, kata Sasta, untuk 'maintenance fee' atau biaya perawatan dan iuran kemanan. Untuk biaya perawatan sasta harus membayar sebesar Rp250 ribu, Rp72 ribu untuk satu kendaraan roda dua, serta iuran kemanan yang mencapai Rp67 ribu perbulan.

Biaya listrik pun, menurut Sasta, tarif penghuni apartemen berbeda dengan tarif listrik pada hunian rumah tapak. Meskipun cara Ia berhemat dengan tidak menggunakan pendingin ruangan (AC) namun Sasta bisa menghabiskan biaya Rp250 ribu perbulan untuk tarif listrik.

Meki demikian, lanjut Sasta, Ia dan suami tetap memilih apartemen yang terletak di pusat kota. Mengingat waktu tempuh perjalanan dari rumah menuju kantor lebih cepat. "Kami belum kepikiran ambil rumah di luar Jakarta, lebih nyaman di sini karena cepat akses menuju kantor," ujarnya.

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA