Titik Nol Bandar Lampung yang Tergerus

Penulis Asrul Septian Malik
12 Sep 2017 - 2:00
SAI 100 FM | Titik Nol Bandar Lampung yang Tergerus Selain menjadi saksi bisu letusan Gunung Krakatau pada 1883 silam, lampu mercusuar di Taman Dipangga juga dipakai Departemen Perhubungan pada 1970 sebagai tanda kilometer 1 Bandar Lampung. LAMPUNG POST/IKHSAN DWI NUR SATRIO

BANDAR LAMPUNG (SAI100FM.id) -- Siang itu (11/9/2017), matahari tidak terlalu terik menerpa perwajahan Taman Dipangga yang kini telah berubah drastis. Rerumputan dan rerimbunan pepohonan yang dahulu mengiasi taman telah berganti tanah merah hasil olahan alat berat. Ratusan batu belah kini menumpuk di salah satu sudut taman. Alat berat yang beberapa hari lalu selalu menderu sekaligus mengubah lanskap taman kini terparkir bisu bak membatu. Tampaknya, proyek pemugaran taman itu memasuki masa rehat.
Di sudut bawah dekat patung gajah tampak dua pria duduk santai berbicang. Seorang lelaki paruh baya berjaket olahraga hitam dan topi hitam. Seorang lainnya berbadan agak tegap. Rupanya mereka merupakan pekerja renovasi Taman Dipangga.
Juni Supriadi, peria bertopi, ternyata bertugas sebagai kepala tukang pengerjaan proyek tersebut. Ia mengatakan aktivitas hari itu diliburkan karena hanya tinggal merapikan dan menyusun batu belah yang kelak dijadikan fondasi parkiran. "Jadi, yang atas itu mau jadi lahan pakir. Terus turun ke bawah bagian lahan yang sudah rata ini mau jadiin parkiran juga. Nah, di bawahnya tetap jadi ruang terbuka hijau dan bisa diakses sama masyarakat," ujar Supriadi.
Menurutnya, monumen mercusuar Taman Dipangga yang dibangun untuk mengenang dahsyatnya letusan Gunung Krakatau 1883 tersebut terkena pelebaran lahan parkir dan direncanakan untuk digeser ke bawah sedikit namun masih dalam lokasi taman. Kondisi monumen itu cukup memprihatinkan. Lampu mercusuarnya masih kokoh berdiri, tetapi sebagian relief ukiran yang menggambarkan meledaknya Gunung Krakatau dan masyarakat yang mengungsi pada tahun 1883 mulai retak dan tertutup tanah kerukan.
Inskandarsyah, salah satu sejarawan Lampung, menyebutkan Taman Dipangga dengan monumen mercusuarnya merupakan cagar budaya dan aset sejarah yang harus dijaga dan dilestarikan. Taman itu merupakan salah satu aset bersejarah di bumi Lampung. "Sah-sah saja kalau ada pembangunan, tapi jangan sampai renovasi perluasan lahan parkir menghilangkan nilai historis dan juga fungsi utama sebagai ruang terbuka hijau tempat masyarakat sekitar bersantai," katanya kepada SAI100FM.id.
Selain menjadi saksi bisu dari bencana letusan Gunung Krakatau pada 1883 silam, lampu mercusuar pada monumen itu juga dipergunakan oleh Departemen Perhubungan kala itu pada 1970 sebagai tanda kilometer 1 Bandar Lampung. "Dulu memang begitu awalnya titik 0 kilometer di situ. Kalau monumen mercusuar akan digeser, tidak apa-apa, tetapi perlu dipugar bentuk tulisan dan relief harus sama persis dengan bentuk sejak dulu," ujar dosen FKIP Sejarah Unila itu. 

Tags

Komentar

Windy

Windy Shahab, 

...

View all Posts

REKOMENDASI

BACA JUGA

  • LAMPUNG POST | LAMPOST.CO
  • LAMPUNG POST | LAMPUNGPOST.id
  • Medcom.id
  • METRO TV
  • MEDIA INDONESIA